Bismillah | Alhamdulillah. Pagi itu, langit tampak cerah. Namun di dalam rumah kami, awan kelabu berkumpul, membawa kabar duka yang begitu mendalam. Ibu, sosok yang selalu menjadi pelita di rumah kami, telah pergi untuk selamanya. Kematian itu datang begitu cepat, meski kami tahu ibu memang memiliki riwayat penyakit yang berbahaya. Namun tetap saja, kabar itu mengguncang hati kami semua.
Rasanya seperti mimpi. Mimpi buruk yang tidak pernah ingin kujalani. Saat detik-detik terakhir itu tiba, bisikan-bisikan hati mulai terdengar lebih jelas. Nasehat yang sering kudengar tentang kematian dan persiapan bekal menjadi pengingat yang nyata. Kematian, ternyata, tidak memandang usia, tidak memandang jabatan, tidak memandang sehat atau sakit, dan tidak memandang waktu. Ia datang kapan saja, saat yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta.
Saat kami semua tenggelam dalam duka, aku merenung, "Kapan waktunya kita harus mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan selanjutnya?" Jawabannya jelas, mulai sekarang. Bukan besok, bukan nanti. Karena penyesalan selalu datang di akhir, saat semua sudah terlambat. Amalan kita, seperti yang seringkali diingatkan, tergantung bagaimana akhirnya.
Tulisan ini mungkin lebih banyak menjadi nasehat bagi diriku sendiri. Namun, tak ada salahnya jika orang lain juga membacanya. Sebab, kewajiban kita sebagai manusia hanyalah menyampaikan, menyebarkan kebaikan. Hidayah adalah hak Allah, yang diberikan kepada siapa pun yang Allah kehendaki.
Kematian ibu menjadi pengingat kuat bagiku. Perjalanan kita masih panjang, dan kehidupan di dunia ini hanyalah awal dari perjalanan yang sesungguhnya. Aku ingin memastikan bahwa saat waktuku tiba, aku sudah memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan selanjutnya. Dan untuk itu, aku harus mulai dari sekarang.
Tulisan lama namun baru di posting.
